Sosok
Pelayanan Terpadu
Pengunjung
  Visitors : 2549458
  Hits : 2524
  Online : 18
Selasa, 27 September 2016 / 23 Zulhijjah 1437 H
Potensi Pertanian

1) Bidang Tanaman Pangan

a) Padi

Untuk bidang tanaman pangan dengan komoditi unggulan adalah padi. Kinerja yang telah dilaksanakan dapat diukur dari capaian produksi, produktifitas, indeks pertanaman, penyediaan infrastruktur dan lain sebagainya.

Data produksi dan produktifitas tanaman padi di Kabupaten Sijunjung dapat dilihat dari tabel berikut :

 

Data Produksi dan Produktifitas Padi di Kabupaten Sijunjung dari tahun 2012 s/d 2014

 

Tahun

 

Luas

Panen (Ha)

Produktifitas

(Ton/Ha)

GKP

Kenaikan

Produkti vitas

 

Produksi

(Ton)

 

Kenaikan

(%)

2012

16.242

5,36

-

87.034

-

2013

18.393

5,31

- 0.05

97.667

12,22

2014

18.876

5,31

0,00

100.232

2,63

Sumber data : Sijunjung Dalam Angka 2014 dan Laporan Tahunan Distambun (Data diolah) 

 

 

Dari tabel di atas dapat diketahui produktifitas padi  mengalami kenaikan dalam  waktu  tiga  tahun  dari tahun  2012  sampai  dengan  tahun 2014 sebesar 13.198 ton Gabah Kering Panen (GKP) atau 15,16 %. Hal ini menunjukan keberhasilan program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh  Dinas  Tanaman  Pangan  dan  Perkebunan  seperti dengan  adanya  Bantuan  Langsung  Bibit  Unggul  (BLBU),  perbaikan jaringan irigasi, dan infrastruktur pertanian dan perbaikan teknologi.

Dengan adanya perbaikan jaringan irigasi dan penyediaan infrastruktur pertanian khususnya pengairan yang memadai serta perbaikan teknologi akan membawa dampak yang signifikan terhadap frekwensi penanaman padi  pada  lahan  sawah  sehingga  lahan-lahan  yang sebelumnya hanya dapat ditanam 1 kali akan meningkat menjadi 2 kali atau 2,5 kali, untuk melihat dampak tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) Lahan Sawah di Kabupaten Sijunjung 2012 s/d 2014

 

Tahun

Luas Lahan Sawah

(Ha)

Luas Tanam

(Ha)

IP Lahan

 

2012

10.887

19.628

1.80

2013

10.481

19.014

1.81

2014

10.629

18.363

1.73

Sumber data : Laporan Distambun Kab. Sijunjung (Data Diolah)

 

b) Ubi Kayu

Komoditi ubi kayu merupakan komoditi tanaman pangan yang penting di Indonesia setelah padi, jagung, dan kedelai, yaitu sebagai bahan pangan, pakan dan bahan baku industri. Disamping itu komoditi tersebut merupakan tanaman pangan dengan daya adaptasi yang luas, mudah disimpan, dan mempunyai rasa enak. Mengingat ubi kayu  mempunyai  adaptasi  yang  luas  hampir  diseluruh wilayah di Kabupaten Sijunjung dapat ditanami ubi kayu. Pengembangan ubi kayu di Kabupaten Sijunjung mempunyai prosfek yang menjanjikan.

Komoditi ubi kayu selain berperan untuk memenuhi kebutuhan sumber karbohidrat untuk subsitusi beras juga sebagai bahan untuk diversikasi pangan. Ubi kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan, bahan baku industri dan bahan baku bioethanol.

Dalam laporan statistik tanaman pangan khususnya  komoditi ubi kayu terjadi peningkatan luas panen dan produksi dan produktivitas dari tahun 2012 sampai dengan 2014. Pertanaman ubi kayu di kabupaten sijunjung pada umumnya terdapat di Kecamatan Kamang Baru dan Koto VII.

 

- Sumber daya manusia

Dalam Pengembangan  komoditi  ubi  kayu  diterapkan  berbagai  teknologi usaha tani melalui penggunaan input produksi yang efesien menurut spesifik lokasi sehingga mampu menghasilkan produktivitas tinggi untuk peningkatan produksi secara berkesinambungan.

Melalui  penerapan  budidaya  yang baik  untuk  pengembangan ubi  kayu, petani diharapkan mampu mengelola sumber daya yang tersedia (varietas, tanah, air dan saran produksi) secara terpadu dalam melakukan budidaya dilahan usaha taninya dengan didampingi petugas pertanian dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang berada di masing-masing nagari.

Pendampingan kegiatan ubi kayu oleh petugas atau Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan instansi terkait dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM) mempunyai peranan penting dilapangan untuk peningkatan teknologi yang sesuai dengan spesifik daerahnya antara lain:

-  Sebagai pemandu yang mengetahui terhadap permasalahan, kebutuhan dan keadaan lapangan.

- Sebagai dinamisiator pelaksana pengembangan sehingga menimbulkan ketertarikan bagi petani dan petani lebih bersemangat dalam pelaksanaan pengembangan ubi kayu.

-    Membatu  membangkitkan  kepercayaan  petani  atau  kelompok  tanidalam pengembangan ubi kayu.

-    Sebagai konsultan bagi petani/kelompok tani dalam usaha pengembangan ubi kayu di wilayah kerjannya.

 

- Pasca panen dan peluang Pasar

Dukungan pemerintah daerah dalam upaya peningkatan produksi ubi kayu sangat terlihat. Berbagai program meningkatkan luas pertanaman ubi kayu terus diluncurkan sejak tahun 2012. Selain itu upaya peningkatan nilai tambah juga terus dilakukan seperti : pembangunan pabrik mini pengolahan ubi kayu menjadi gaplek dan tepung mokaf di Kecamatan Kamang Baru. Peluang pasar bagi ubi kayu sangat besar dengan serapan pasar saat ini sekitar 20 ton/hari untuk kebutuhan industri makanan dalam bentuk bahan mentah ubi kayu  maupun gaplek dan tepung mokaf.

 

2)  Bidang Hortikultura

Bidang  hortikultura  memfokuskan  pada  dua  jenis  tanaman  yaitu  tanaman buah-buahan dan sayur-sayuran. Perencanaan program dan kegiatan yang selama ini dilakukan lebih diarahkan pada pengembangan tanaman buah- buahan. Beberapa komoditi unggulan yang ditetapkan dalam rencana strategis pembangunan pertanian dibidang hortikultura khususnya buah-buahan antara lain adalah pisang, rambutan, durian, duku/langsat  dan manggis.  Komoditi tersebut lebih banyak diusahakan oleh masyarakat dan memberikan sumber pendapatan bagi petani.

Perkembangan komoditi hortikultura, khususnya buah-buahan (Tabel II.15) mengalami peningkatan dalam jumlah populasi pohon yang dapat dipanen dari tahun ke tahun, terutama untuk tanaman manggis, peningkatan produksi dan tanaman komoditi ini disebabkan karena adanya penambahan penanaman pohon manggis. Penambahan ini merupakan bantuan dari pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melalui dana Tugas Pembantuan (TP) dan APBD daerah.

 

a) Tanaman manggis

Tingginya permintaan untuk memenuhi kebutuhan buah-buahan cenderung meningkat. Prospek pengembangan komoditas hortikultura khususnya manggis saat ini maupun masa yang akan datang cukup menggairahkan.

Pengembangan  usaha  agrobisnis mempunyai keunggulan dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya, antara lain dalam satuan luas lahan yang kecil dapat memberikan keuntungan relatif  besar dan dapat memberikan jaminan pendapatan yang tinggi dalam jangka  panjang dan berkelanjutan. Pengembangan manggis merupakan investasi jangka panjang yang  diarahkan untuk menjadi komoditas buah-buahan unggulan daerah yang mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif.

 
 

 

 

Manggis merupakan salah satu komoditi unggulan

Ditinjau dari ketersediaan lahan dan kondisi daerah, pengembangan manggis sangat mendukung di Kabupaten Sijunjung. Saat ini  populasi manggis secara keseluruhan di Kabupaten Sijunjung tahun 2014 terdapat 128.821 batang dengan tanaman produktif yang sedang menghasilkan sebanyak 27.217 batang dengan produksi buah segar 1.665 Ton (data Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. Sijunjung tahun 2014). Namun di Kabupaten Sijunjung manggis ditanam tidak secara monokultur tetapi secara polykultur sehingga manggis tidak ada kebun manggis secara khusus. Sentra manggis di kabupaten Sijunjung adalah Kecamatan Lubuk Tarok, Koto VII dan Tanjung Gadang.

Pengembangan kawasan buah manggis di Kabupaten Sijunjung dilakukan melalui pola pemberdayaan petani dengan kegiatan berupa peningkatan kemampuan teknis dan penguatan modal  usaha  dalam  bentuk  bantuan sosial. Melalui bantuan sosial tersebut diharapkan kelompok tani mampu menjadi lembaga mandiri yang dapat mengelola sumberdaya yang dimiliki. Pola  pemberdayaan  seperti  ini  diharapkan  dapat  mendorong  tumbuhnya kelompok  usaha  dan  mempercepat  terbentuknya  jaringan  kelembagaan hortikuktura di pedesaan.

 

 

Sumber : Profil Kabupaten Sijunjung Tahun 2015 (BAPPEDA)

Terakhir di perbaharui : 31 Agustus 2016