Sosok
Pelayanan Terpadu
Pengunjung
  Visitors : 1336992
  Hits : 31870
  Online : 10
Jum'at, 31 Oktober 2014 / 6 Muharram 1436 H
Sosok


Sugiharti
PROFIL PETANI BERPRESTASI

PROFIL PETANI BERPRESTASI

SUGIHARTI,SE

JORONG KURNIA KAMANG, NAGARI KAMANG, KECAMATAN KAMANG BARU

KABUPATEN SIJUNJUNG PROPINSI SUMATERA BARAT

 

Sugiharti seorang sosok ibu rumah tangga sederhana, tinggal di jorong Kurnia Kamang Nagari Kamang Kecamatan Kamang Baru Kabupaten Sijunjung Provinsi Sumatera Barat. Jorong ini terletak ± 100 Km di sebelah Tenggara Ibukota Kabupaten Sijunjung di Muaro. Jorong ini adalah salah satu jorong lokasi transmigrasi yang dihuni oleh berbagai suku bangsa. Memiliki luas wilayah 650 Ha, terdiri dari 3 dusun dengan jumlah penduduk sebanyak 1.238 jiwa dengan matapencaharian masyarakatnya sebagai petani.

Sugiharti dilahirkan di Padang Panjang pada tanggal 23 Februari 1969, putri pertama dari pasangan Ibu Supari dan bapak Sukijo seorang anggota TNI berdarah Jawa (Bapak Sukijo dari Wonogiri dan ibu Supari dari Karanganyar Solo) yang sejak dinas ditugaskan di Propinsi Sumatera Barat. Lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga TNI yang mendidik anak-anaknya secara disiplin, Sugiharti tumbuh menjadi sosok yang kuat. Sebelum hijrah ke Timpeh V jorong Kurnia Kamang, Ibu Atik (panggilan sehari-hari) bersama keluarga besarnya tinggal di Kota Solok yang serba cukup sarana dan prasarana umumnya. Kepindahan ke Timpeh perlu keberanian besar, karena Timpeh V adalah salah satu daerah lokasi transmigrasi dan merupakan daerah bukaan baru yang dibuka tahun 1992/1993. Hal inilah yang disampaikan oleh Bapak Sukijo, orang tua dari Ibu Atik kepada anak-anaknya saat memberikan pilihan guna melanjutkan hidup di penghujung masa dinasnya tahun 1993. Menikah dengan seorang petani bernama Haryanto dan dikaruniai 3 orang anak yang saat ini masih usia sekolah, menjadi salah satu motivasi untuk selalu berjuang.

Di tempat tinggalnya, jorong Kurnia Kamang masih memiliki potensi yang cukup besar di bidang pertanian, karena tanahnya yang subur dan masih banyak yang belum tersentuh oleh teknologi budidaya berbagai komoditas pertanian, sehingga banyak penduduk luar daerah berminat untuk tinggal dan berusaha menanam modalnya di bidang pertanian di lokasi ini.

Usaha Sugiharti berawal di tahun 1996, dimana masyarakat Timpeh V Jorong Kurnia Kamang memulai berkebun kelapa sawit melalui program KKPA (Kredit Koperasi Primer Anggota) dari KUD Kurnia Timpeh yang beranggotakan 996 orang dengan system avalys (bapak angkat) dan pembangunannya menggunakan jasa sebuah perusahaan pengembang perkebunan kelapa sawit (palm estate).

Di awal pembangunan, semua berjalan lancar. Belum selesai masa tahun tanam I (pertama) dan mulai persiapan memasuki tahun tanam II, di tahun 1997 terjadi krisis keuangan di Indonesia dan dunia yang menyebabkan terjadinya kemerosotan nilai rupiah yang berdampak kepada perubahan harga standar yang sudah disepakati antara pengurus koperasi, Bank penyandang dana, perusahaan pelaksana pengembangan dan perusahaan penjamin pelaksanaan pengembangan. Hal ini disebabkan usaha pmbangunan kebun kelapa sawit telah memiliki standar yang penghitungannya telah menggunakan nilai mata uang internasional. Sejak saat itulah proyek pembangunan dan pengembangan kebun ini akhirnya tidak sesuai lagi dengan standar perkebunan. Pembangunan dan pengembangan kebun akhirnya terbengkalai. Mulai Tahun Tanam II itulah masa dimana kegigihan dan tantangan seluruh anggota diuji. Berbekal keterbatasan pengalaman dalam berkebun sawit, pengurus koperasi bersama anggota (saat itu Sugiharti masih anggota biasa) berjuang untuk menyelamatkan kebun sawit yang saat itu telah berumur ±1,5 tahun.

Tahun demi tahun berjalan. Dengan segala keterbatasan baik ilmu dan permodalan, pengurus bersama anggota berjuang dan bertekad untuk mempertahankan dan menyelamatkan kebun kelapa sawit yang sudah ditanam. Namun tanaman kelapa sawit bukanlah tanaman yang bisa berproduksi optimal tanpa perawatan yang sesuai standard. Hal inilah yang dirasakan para petani pelaksana program KKPA setelah tanaman memasuki fase produksi. Akibat tidak standarnya perawatan dan pemupukan sejak tahun tanam II, berdampak jumlah dan berat tandan buah segar tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Produksi yang rendah ditambah turunnya harga TBS di pabrik saat itu memberikan motivasi Sugiharti dan kawan-kawan untuk mencari peluang usaha lain selain berkebun kelapa sawit. Berbagai upaya dicoba untuk bertahan hidup. Lahan saat itu hampir semua telah ditanami kelapa sawit, sehingga petani harus mencari jalan agar bisa menyambung hidup dengan tetap melaksanakan budidaya sawit yang saat itu belum dapat berproduksi secara optimal.

Informasi dikumpulkan guna mencari peluang, baik melalui media televisi maupun dari pembicaraan secara lisan dengan sesama petani. Hampir semua masyarakat Timpeh adalah pekebun sawit, seluruh jenis makanan sehari hari harus didatangkan dari daerah lain. Berdasarkan hal tersebut, Ibu Ati menyadari bahwa banyak peluang usaha yang dapat dikembangkan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat sehari-hari di Timpeh.

Sebagai upaya pertama akhirnya diputuskan oleh Bu Ati untuk menambah usaha budidaya sapi yang digembalakan diantara kebun sawit dengan bermodal dana pinjaman dari Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat (Bank Nagari) sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) di tahun 2008. Penambahan usaha beternak sapi ini memberikan keuntungan ganda bagi kebun sawitnya. Keuntungan pertama adalah kotoran sapi dapat menjadi pupuk organic bagi sawit serta tenaga sapi dimanfaatkan sebagai tenaga untuk membawa TBS keluar dari kebun selain hasil dari sapi itu sendiri mampu memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat Timpeh itu sendiri. Selain itu, pelepah dan dauun sawit dapat dijadikan pakan untuk sapinya. Budidaya pengembangan sapi ini akhirnya dikembangkan dengan penambahan usaha penggemukan sapi untuk persiapan Hari Raya Iedul Adha setiap tahunnya. Sampai saat sekarang, sapi yang telah dimiliki Sugiharti mencapai 15 ekor. Hal ini ternyata memberikan ketertarikan bagi petani lain. Sampai dengan saat ini sudah banyak petani yang mengikuti jejak beliau dalam beternak sapi, baik pengembangan maupun penggemukan sapi untuk persiapan Iedul Adha.

Tahun 2009, selain pengembangan sapi di lahan sawit, masih banyak lahan sawit yang merupakan cekungan dan rawa, hal ini kembali memberikan ide bagi Bu Ati untuk mengembangkan usaha perikanan. Kondisi air yang menggenang dan tidak mengalir ternyata cocok untuk budidaya ikan yang tidak bersisik, akhirnya dicoba mengembangkan ikan lele di rawa-rawa yang disulap menjadi kolam ikan di sela-sela tanaman sawit yang ada. Bersyukur, ikanpun berkembang dengan baik. Bahkan tidak hanya lele, beliau juga mengembangkan ikan patin, bawal air tawar dan ikan gabus. Semua jenis ikan tersebut sampai sekarang menjadi komoditas tumpang sari yang dibudidayakan oleh petani berhasil ini di lahan sawitnya, yang juga diikuti oleh petani disekitarnya, bahkan sampai 5 jorong yang ada di sekitar jorong Kurnia Kamang.

Tahun 2010 berdasarkan kesamaan kepentingan dan kebutuhan, para petani yang telah membudidayakan sawit dan ikan serta sapi secara terintegrasi ini bersepakat membentuk kelompok guna memudahkan penyediaan pakan dan pemasaran ikannya. Pembentukan kelompok ini sangat disambut baik oleh masyarakat. Namun pada kepengurusan pertama kurang berjalan sehingga dilaksanakan revitalisasi kepengurusan dan Sugiharti terpilih menjadi Ketua Kelompok Tunas Karya. Bersama dengan beberapa pengurus dan anggotanya, kelompok ini akhirnya berkembang dan menjadi salah satu kelompok andalan di kecamatan Kamang Baru bahkan di Kabupaten Sijunjung.

Kelompok yang diawali dengan budidaya sawit terintegrasi dengan ikan ini terus berkembang. Penjualan ikan lele yang melalui “satu pintu” akhirnya memudahkan bagi anggota dalam memasarkan hasil panennya. Tahun 2010, Sugiharti kembali mendapatkan pinjaman dari Bank Mandiri sebesar Rp. 330.000.000,- untuk mengembangkan usaha. Dana ini digunakan untuk mengembangkan ternak sapi dan kolam ikan yang terintegrasi dengan kebun sawitnya. Saat ini Sugiharti telah mengembangkan kolam ikan dengan total luas 1.876 m2. Berawal dari ikan lele, ternyata kebutuhan pasar akan itik pedaging dan ayam buras pedaging cukup tinggi. Hal ini kembali memberikan ide bagi kelompok untuk mengembangkan usaha budidaya itik dan ayam buras pedaging. Saat ini kepemilikan komoditas itik dan ayam buras rata-rata 100 ekor per anggota dan Sugiharti sendiri sebanyak 250 ekor itik dan 100 ekor ayam buras pedaging.

Tidak sampai disini, pengembangan itik dan ayam ini dilaksanakan di pekarangan bersebelahan dengan kandang penggemukan sapi yang juga merupakan lahan budaya tanaman kakao dengan luas 0.5 ha. Kotoran dari unggas dan sapi dimanfaatkan oleh Sugiharti untuk pupuk organic bagi tanaman kakao, sawit dan tanaman sayuran yang dikembangkannya (kacang panjang, bayam, sawi dan cabe rawit). Dari berbagai usahanya ini Sugiharti telah mampu memeperkerjakan 10 orang petani buruh dalam mendukung usahanya.

Berbagai komoditas yang dibudidayakan oleh kelompok Tunas Karya dan masyarakat Timpeh V umumnya dikelola secara pribadi, namun dalam pemasaran dan pengadaan sarana prasarana produksi dikelola melalui kelompok. Setiap unit usaha dikelola oleh orang tertentu yang bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan khususnya pemasaran dari komoditas yang dikelolanya. Sugiharti sendiri memegang peran dalam distribusi ayam dan itik pedaging selain sebagai ketua seluruh unit pengelolaan usaha.

Kondisi saat ini dengan banyaknya masyarakat yang mengikuti jejak Sugiharti, sayuran dataran rendah untuk kebutuhan sehari-hari tidak lagi mendatangkan dari luar, juga daging ayam buras, itik, sapi serta ikan.

Bahkan pada komoditas ikan lele, Kelompok Tunas Karya telah mampu menampung produksi ikan lele tidak saja dari anggota kelompoknya, tetapi juga produksi lele dari daerah lain seperti dari kecamatan Sijunjung. Jika produksi ikan melimpah, Kelompok Tunas Karya yang diprakarsai oleh Sugiharti telah mampu mengolah ikan lele menjadi berbagai macam olahan seperti bakso lele, baby catfish crispy, abon lele dan lele asap. Sugiharti bersama kelompoknya telah mampu mengolah 100 kg per hari lele segar menjadi lele asap dan siap dipasarkan ke pasar lokal maupun pasar di propinsi Riau dan Jambi.

Selain membudidayakan ikan, kelompok Tunas Karya juga telah mampu menyediakan benih ikan lele melalui unit pembenihan rakyat a.n Juanedi. UPR ini tidak saja menyediakan kebutuhan bahan baku baby catfish crispy, tapi juga telah mampu menyediakan benih ikan lele untuk kebutuhan benih anggota kelompok, masyarakat pembudidaya ikan di timpeh dan bahkan sampai ke Kabupaten tetangga di Dharmasraya dan Kuantan Sengingi Propinsi Riau.

Guna mendukung usahanya ini, Pemerintah kabupaten Sijunjung telah beberapa kali mengutus Sugiharti untuk mengikuti berbagai macam pelatihan dan temu bisnis, antara lain Pelatihan temu hasil usaha (2011), pelatihan pengolahan ikan (2012), Sosialisasi pengembangan investasi dan permodalan serta mengikuti berbagai even pameran, baik di tingkat Kabupaten Sijunjung maupun di tingkat Propinsi Sumatera Barat.

Selain aktif berkiprah dalam kelompoknya, Sugiharti juga aktif di berbagai unit kelembagaan seperti bendahara di KUD Kurnia Timpeh sejak tahun 2000, dan aktif di Gabungan Kelompok Tani Kerukunan Tani Mandiri nagari Kamang Kecamatan Kamang Baru serta organisasi organisasi non formal lainnya seperti kelompok arisan dan kelompok pengajian.

Keberhasilan Sugiharti sebagai petani berprestasi adalah dampak yang tercipta dari keberhasilan kegiatannya. Harapan kedepan masyarakat lain dapat meniru aktifitas dan model unit usaha yang sangat mungkin dapat dilaksanakan oleh para petani di Timpeh khususnya dan masyarakat Sijunjung umumnya. Kemauan dan kegigihan Sugiharti mampu membangun ketahanan pangan dan membangun ekonomi keluarga serta masyarakat. Sehingga ekonomi masyarakat Sijunjung yang sebagian besar adalah petani dapat ditingkatkan dan menjadi petani yang mandiri.